Sepak Bola Indonesia, sesuatu yang sungguh aku mencintainya, barangali hampir sama dengan bagaimana aku mencintai bermain di alam bebas. Tentu saja, ini sering menjadi bahan cibiran teman-teman lain, yang begitu membanggakan MU, Milan, sesuatu yang berasal dari luar sana. Aku lebih mencintai PSIM, Persebaya, Arema atau PSIS Semarang. Pernah aku berada di barisan para Bonek, saat “menginvansi” Jakarta di masa lalu, dilempari, dan tentu saja balas melempari. Atau menyaksikan teman berseragam hijau, bergerombol dan memalak orang. Atau harus sembunyi di toilet selama 2 jam di sebuah mall depan Lebak Bulus karena
sweeping barisan suporter berseragam orange. Aku begitu menikmati rasa memiliki sesuatu yang teramat sangat dicintai, saat itu Persebaya, dan saat ini PSIM Jogjakarta.
Sore itu Bonek datang ke Jogja, dan sebuah nyanyian persaudaraan dilantunkan sepanjang pertandingan. “Piye, piye, piye kabare? piye kabare Mas Brajamusti ?”Seru mereka, dan Brajamusti, suporter PSIM membalas ; “Apik, apik, apik kabare. apik kabare Bonekmania”. Atau lagu persatuan walapun cukup berbau provokasi dan intimidasi ; “Jogja – Bonek kita saudara, Jogja – Bonek kita saudara, Pasoepati, di bunuh saja !” Sebuah seruan permusuhan bagi suporter Solo, yang secara tradisi bermusuhan dengan Jogja atau Surabaya. Beberapa suporter mabuk memang terlibat bentrok, tapi tak memancing keributan besar. Pertandingan yang berakhir imbang itupun berakhir dengan nyanyian Bonek ; “Terima kasih, terima kasih, Mas Brajamusti, atas sambutannya atas sambutannya di Kota Jogja”. Hawa panas sejak Bonek datang, merampas dan sempat merusak kaca-kaca di sekitar stadion ternyata tak berlanjut, namun justru bertukar kaos, syal dan nomor hp ; sebuah persaudaran baru yang melupakan tragedi tewasnya seorang Bonek di Jogja sekitar 12 tahun lampau akibat bentrok. Melihat anak-anak Bonek, dengan semangat,militansi dan kesungguhan luar biasa dalam mendukung Persebaya, di tengah keterbatasan banyak hal, membuat respek yang begitu mendalam tiba-tiba saja muncul. Mereka, yang seringkali dihinakan, dilecehkan, adalah sosok yang memiliki kesungguhan dan kekuatan cinta yang luar biasa terhadap apa yang telah mereka pilih ; mencintai Persebaya. Aku belajar dari mereka, soal kesungguhan.
“dikisahkan oleh seorang brajamusti, dengan terlebih dahulu diedit tentunya..”



Aku baru baca blog mu. Tukeran link ia Tan. Mari menulis!
hidup tuk bonek mania
tapi lebih indah perdamaian untuk suporter indonesia kan mas?