Berawal dari niat menonton secara langsung pertandingan Arema, maka disusun lah sebuah rencana untuk jalan-jalan ke Malang, sekalian mampir ke tempat simbah. Pertamanya cuma pengen sendiri, tapi pada akhirnya saya pergi berdua, dengan seorang teman SMA. Dari chasing nya sih manusia, tapi saya sendiri kurang yakin, body segede pick up, hmm,,anggap saja dia manusia. Jadilah saya pergi ke Malang bersama Mbom-mbom.
Rencananya mau naek kereta Sri Tanjung, tapi dengan pertimbangan keefektifitasan waktu, jadilah saya naik Kereta Malabar, Bandung-Malang.Diputuskan kita berangkat tanggal 2 Februari, dengan niat melepas segala kepenatan di Jogja.
Saat itu pukul 23.30 di Stasiun Tugu, saya sudah stand by, tinggal menunggu kedatangan makhluk besar itu. Di tiket sih kereta berangkat jam 24.00, tapi kata Bang Iwan Fals, kereta terlambat sudah biasa. Mungkin sekitar jam 23.45 mbom-mbom datang, cek amunisi termasuk rokok (hal paling penting), dan pukul 00.20 kereta meluncur ke Malang.
Seperti dugaan, kereta penuh sesak (maklum, kereta ekonomi). Sesungguhnya saya cukup menikmati perjalanan saat itu, walaupun perjalanan dini hari, tapi saya baru bisa tidur mungkin jam 3 an. Sampai di Madiun, kereta sedikit lebih lengang, dan mbom-mbom sudah bisa mendapat singgasananya untuk memejamkan mata.
Kereta sampai di Malang kira-kira jam 8 pagi, (hmm,,untuk kali ini tidak terlambat). Sambil menunggu jemputan dari saudara, diputuskan kita foto-foto.(arep dionekke wong ndeso yo ra urusan). Mungkin hanya satu kekurangan kita, saat itu tidak ada yang bawa kamera, jadi ya cuma lewat foto hp. Foto di depan stasiun Malang.
Sebenarnya ada 2 foto, foto saya dan mbom-mbom tapi foto mbom-mbom dihapus, karena dia merasa mirip dengan Ivan Gunawan. Mungkin saat itu orang-orang Malang melihat kami, aneh. Foto di depan stasiun. Perasaan yang sama yang kami rasakan saat melihat di Jogja orang-orang foto di Stasiun Tugu.hehe.
Mengawali hari di kota Malang dengan makan soto di depan stasiun, dan tak lama, kamipun naik angkot, jurusan stasiun-gadang. Dari sana untuk menuju rumah simbah, harus oper ke angkot lain jurusan gadang-Wajak. Ya, rumah simbah saya di daerah Wajak, dan saya baru tau ternyata itu adalah Malang coret, karena perjalanan yang sangat jauh.
Rencana sudah disusun, kami disana 3 hari, dan hari ke 2 adalah hari penting karena kami akan nonton Arema vs Persipura (jeng jeng jeng). Sampai disana, ngobrol sebentar dengan simbah, dan malamnya kami putuskan untuk putar-putar kota Malang. Disitu kami sadari lagi, betapa jauhnya Wajak dari Kota malang,mungkin sekitar 20 kilo. Dan satu hal, sebuah kesalahan saat jalan-jalan malam ke Malang tidak memakai jaket, karena hawanya,,dingin juancuki pol.
Malam itu, shoping time. Pikiran kami, masak jauh-jauh nonton arema ga pakai atribut arema sama sekali. Sedangkan mbom-mbom sudah ada baju The Jack. Akhirnya malam itu, dimulai dari Ongisnade Store, sampai Bumi Arema, berakhir di Ultras. Kami keluar dengan 3 kaos, sticker dan 1 terompet. Sedangkan syal, saya sudah bawa dari Jogja.
Bagi saya, Malang benar-benar mempesona. Arema benar-benar bagai agama kedua disana. Hampir semua Aremania, dan saat saya disana sepertinya tidak ada suporter Persema. Salam Satu Jiwa Aremania !
