Sepakbola, sebuah olahraga yang sangat populer di dunia, apalagi di Indonesia. Permainan yang hampir semua orang pasti bisa memainkannya. Sepakbola punya energi untuk menarik perhatian banyak orang. Dan di negara ini, sekarang, sepakbola sedang carut marut.
Berawal dari induk organisasi sepakbola tertinggi yaitu PSSI yang dikuasai oleh segelintir orang, dan mereka memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Ada banyak kabar bahwa mereka dibacking oleh salah satu partai besar di negeri ini, partai dengan lambang pohon rindang.
Setelah orang-orang status quo, begitu sebutan mereka, turun, sekarang PSSI dikuasai oleh orang-orang yang katanya pro revolusi, orang-orang K78 yang begitu gencar menyuarakan turunnya sang Ketua Umum sebelumnya. Banyak harapan yang digantungkan di pundak mereka, orang-orang baru tersebut. Namun bukannya pencerahan yang didapat, tapi menurut saya, semuanya semakin absurd, semakin tidak jelas. Mulai dari kompetisi lokal yang berubah-ubah, sampai tentang polemik pelatih timnas.
“Yang dibutuhkan seorang pemimpin itu adalah sebuah ketegasan dan kekonsistenan”. Nampaknya kata-kata itu tidak berlaku bagi Ketua yang sekarang. Pada awalnya, Liga Lokal digadang-gadang akan diikuti 36 tim, dengan dibagi 2 wilayah. Saat verifikasi sudah dilakukan dan tim yang lolos sudah diumumkan, tiba-tiba kompetisi berubah menjadi 18 klub. Dan yang terakhir adalah Liga Lokal diikuti 24 klub, yaitu 18 klub yang “sah” dan 6 klub tambahan.
Alasan 6 klub tambahan itu dimasukkan ke dalam kasta tertinggi Liga bermacam-macam, diantaranya adalah Tim Terdegradasi terbaik dan Tim dengan sejarah yang besar dan basis suporter yang banyak. Bagi saya, sungguh alasan yang tidak masuk akal. Kompetisi adalah semacam kawah candradimuka untuk calon pemain timnas, dan tim yang terjun di kompetisi, yang kuat akan bertahan, yang kalah akan terdegradasi, turun ke kasta di bawahnya. Sedangkan tim-tim di kasta bawah, yang terbaik akan promosi, naik ke kasta di atasnya. Promosi dan degradasi, itulah inti dari sebuah Liga.
Tapi, saya hanya seorang suporter. Yang bisa saya lakukan hanya datang ke stadion, bernyanyi dan memberi semangat pada pemain tim kesayangan kami. Saya tidak perduli dengan politik-politik di kalangan elit organisasi tersebut, seperti kata-kata di film Soe Hok Gie, “politik tai kucing”.
Kami tidak meminta banyak wahai tuan-tuan yang berkantor di Gelora Bung Karno, kami hanya ingin, setiap minggu bisa melihat tim kesayangan kami, tim kota kami, bertanding. Kami ingin setiap minggu menonton bola, tapi bukan klub luar negeri yang bahkan kami belum pernah ke stadion mereka atau bertemu pemain-pemain mereka. Kami hanya ingin bisa datang ke stadion, dan menonton pemain-pemain klub kesayangan kami, berlari dan berusaha mencetak gol demi suporter. Tidak banyak kan permintaan kami, wahai tuan-tuan berdasi?
HIDUP SUPORTER INDONESIA!!!!